1 July 2008

Termakan Asumsi

Asumsi yang salah akan menghancurkan anda.

Pada tahun 1876, Western Union adalah perusahaan yang memonopoli layanan telegraf di AS. Pada saat itu, telegraf merupakan teknologi telekomunikasi yang paling maju. Tak heran, Western Union menjadi salah satu perusahaan terkaya di AS saat itu. Suatu saat, Gardiner Greene Hubbard mendatangi pimpinan Western Union, William Orton, untuk menawarkan paten penemuan baru yang ia sponsori. Orton menganggap temuan itu sebagai lelucon dan menganggapnya sebagai ‘mainan elektronik’ saja. Apalagi, Hubbard meminta uang sebesar USD 100,000. Western Union menolak tawaran tersebut.

Akhirnya, penemu alat tersebut tetap memegang patennya, dan beberapa tahun kemudian mendirikan perusahaan telekomunikasi berdasarkan penemuannya tersebut. Perusahaan dalam sekejap berubah menjadi korporasi terbesar di AS, mengalahkan Western Union. Perusahaan tersebut saat ini dikenal sebagai AT&T. Orang tersebut adalah Alexander Graham Bell, dan alat temuannya tersebut adalah telepon. Seandainya Orton mau mempertimbangkan paten yang ditawarkan tersebut lebih seksama saja, tidak terlalu terpengaruh oleh pemikirannya sendiri, bisa jadi Western Union akan benar-benar menjadi penguasa telekomunikasi di AS

Dan kemarin saya juga dicelakakan oleh pembuatan asumsi yang keliru.

Pada hari sabtu, secara kebetulan saya berjumpa dengan Bapak Pimpinan di angkot. Di sela-sela obrolan, beliau berkata, “Rif, nanti hari senin jam 09.00 kita kumpul ya”. Dan saya pun menjawab, “Ya, pak”.

Sabtu sore, SMS dari beliau sampai di HP saya. Salah satu kebiasaan di tim kami adalah mengirimkan SMS ke semua anggota sebagai konfirmasi resmi apabila ada acara tertentu. Saya baca sekilas isi SMS tersebut “all kita meeting senin.. bla bla bla“. Oh, ini mah yang tadi dibicarakan di angkot, pikir saya. Jadi, saya tidak membaca keseluruhan SMS tersebut.

Hari senin, sesuai dengan ingatan pembicaraan di angkot, saya berangkat pukul 08.50. Sampai di tempat pukul 08.55. Agak bangga juga saya, karena jarang-jarang saya datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Tapi sebelumnya, saya mendapat SMS dan dua kali miskol dari teman di tim saya. Heran saya, belum waktunya mulai rapat kok dipanggil-panggil.

Setelah masuk ke ruangan, ternyata acara sudah dimulai. Saya jadi bingung. Saat itu masih 08.55. Ada kesalahan di mana saya? Kemudian, iseng-iseng saya cek lagi SMSnya. Saya baca dengan seksama : “all kita meeting senin 8.30 teng ya!“. Njis!! Ternyata saya sudah telat berbelas-belas menit! Ternyata asumsi saya mendasarkan pada percakapan informal di angkot keliru! Ternyata saya berbuat bodoh lagi… :(

Seperti salah satu judul lagu Queen : too much assumption will kill you!

Referensi :
http://www.neatorama.com/2008/04/15/the-stupidest-business-decisions-in-history/

26 June 2008

Instalasi INET Framework untuk OMNeT++ di Windows XP

OMNeT++. Seperti halnya namanya yang ‘plus-plus’, instalasi framework INET untuk OMNeT++ murni di atas Windows (tanpa melalui Cygwin) juga cukup menguras energi yang ‘plus-plus’.

Awalnya, saya juga mengalami hal yang sama dengan yang dialami rekan Hendra Rakhmawan. Saya menemui kegagalan saat mencoba menginstall framework INET pertama kali. Tapi, berbeda dengan Hendra yang memutuskan untuk menggunakan Ubuntu, saya memilih tetap bertahan dengan Windows. Saya terlanjur jatuh cinta dengan Windows (njis, dibayar berapa saya sama mikocok..), dan terlanjur alergi dengan Linux. Apalagi kalau sampai harus menodai kesucian laptop saya dengan Linux sebagai salah satu OSnya. Maaf saja. (kalau cuma sebagai guest di Vmware, terpaksa boleh lah :p).

Menurut saya, pangkal permasalahannya bukan di OMNeT++ itu sendiri, tapi pada proses compiling (atau apalah istilah resminya, saya kurang mengerti) kode C++ dari INET. Rata-rata, orang akan menggunakan Visual C++ sebagai compilernya. Termasuk saya. Permasalahan yang saya hadapi cuma dua, namun berpotensi membingungkan : pertama, masalah path. Kedua, ada satu file header C++ (kasus saya : windows.h) yang belum dipasang di Windows.

Sayangnya, dokumentasi resmi dari OMNeT++ sendiri sangat minim. Tapi untunglah, ada link yang cukup membantu, yaitu ini.

Berikut langkah-langkah yang saya lakukan :

  • Instalasi Ghostscript

Ghostscript akan ditanyakan OMNeT++ saat proses instalasi. Saya agak lupa fungsinya untuk apa, dan saya lupa juga apakah wajib diinstall atau tidak. Tapi kalau anda mau menggunakannya, download di sini.

  • Instalasi Visual C++ 2005 Express Edition

Installer Visual C++ 2005 Express Edition format .ISO bisa didonlot di sini. Instalnya standar, tinggal klik-klik saja.

  • Instalasi Platform SDK

Platform SDK akan menyediakan beberapa file header yang diperlukan saat proses compiling framework INET (dan mungkin yang lain juga). Download dari sini. Saya melakukan kesalahan dengan melakukan instalasi via web. Hasilnya? lama banget.. :( Ingat, jangan mengulangi kebodohan saya.

Agar aman, Anda dapat memilih menginstall semua komponen SDK (400 an MB). Tapi, sepertinya core nya saja sudah cukup (ini dugaan saya saja).

  • Beresi konfigurasi path di Windows

Cara yang saya lakukan agak kotor, jadi lebih baik anda ikuti petunjuk di ini.

Cara mengetes apakah path nya sudah benar atau belum, buka command prompt, kemudian ketikkan perintah ‘cl.exe’ dan ‘nedtool’. Asal bukan keluar error … is not recognized as an internal or external command, operable program or batch file.‘ saja, berarti path nya (insya Allah) sudah benar.

  • Instalasi OMNeT++ edisi Windows

Download di sini. Caranya standar juga, tinggal klik-klik next. Bila ditanyai path ghostscript, isikan dengan path sesuai instalasi Anda sebelumnya. Path default ghostscript 8.60 insya Allah di C:\Program Files\gs\gs8.60\bin\gswin32.exe . Ketika ditanya versi Visual C++ yang digunakan, pilih ‘vc-81′ (karena menggunakan visual C++ 2005).

  • Instalasi framework INET

  1. Download dari sini.
  2. ekstrak. Untuk kasus saya, hasilnya saya taruh di C:\\OMNeT++\INET (ga penting ya naruh di mana :p)
  3. Masuk ke direktori hasil ekstrak, kemudian baca file INSTALL dan README , agar Anda mendapat gambaran hal apa yang akan dilakukan.
  4. Buka command prompt, kemudian pindah ke direktori hasil ekstrak source INET tersebut. Lakukan sesuai petunjuk di file INSTALL bagian Windows.
  5. Setelah melakoni ‘makemake.cmd’, ‘nmake -f Makefile.vc depend’, dan ‘nmake -f Makefile.vc’ (dan berhasil), jalankan simulasi demonya. Pindah ke direktori Examples/ dan jalankan script ‘rundemo.bat’. Kalau sukses, akan keluar tampilan berikut :

yes yes yes, berhasil! Kemudian masuk ke masalah baru : bagaimana cara memakai framework tersebut?

Alih-alih membuat pusing, semoga tulisan saya di atas membantu.

26 June 2008

Parkir Sepeda

Iseng-iseng bongkar data isi laptop, saya menemukan foto amatir hasil jepretan beberapa waktu silam :

Sepeda diparkir tepat di selasar yang sudah dipasangi papan himbauan satpam ITB “Terima kasih untuk tidak parkir di selasar gedung ini“.

Sebuah kejadian yang lazim terjadi setiap hari selama ini di selasar labtek VIII. Bukan hanya satu, tapi beberapa sepeda terdapat di situ.

Maksud bapak satpam baik. Dengan tidak memarkir kendaraan di situ, maka selasar yang menjadi tempat lalu-lalang banyak orang akan menjadi rapi. Tapi empunya sepeda juga tidak salah sepenuhnya. Karena, agar sepeda aman, sepeda tersebut harus dirantai ke suatu palang. Tanpa rantai, sebanyak apapun kunci yang dipasang, si maling tinggal mengangkat sepedanya saja toh. Masalahnya, di ITB tidak cukup banyak benda yang bisa dijadikan sebagai tempat merantai sepeda. Alternatif paling gampang ya ditaruh di selasar labtek.

Mungkin sudah saatnya ITB perlu mempertimbangkan membuat tempat parkir khusus sepeda. Beberapa waktu lalu SBY ikut mengampanyekan penggunaan sepeda. Di Bandung, kalau tidak salah pejabatnya juga mengampanyekan hal serupa (ah, s’ius pak… kalau saya sih mending naik mobil dinas. adem :D ). Tiga bulan yang lalu, ketika saya ke kampus UI di salemba, di sana sedang dirampungkan track khusus sepeda (karena warna tracknya merah, semula saya curiga ada program ‘Busway masuk kampus’ -_-) beserta tempat parkirnya. Kalau UI memulai, mengapa ITB tidak? Tentu saja tidak perlu sampai ikut membuat track khusus. Kampus kecil, juga. Yang penting, ada lahan untuk mengakomodasi pengguna sepeda.

Kalau di luar negeri, tempat parkirnya kan semacam ini :

Implementasinya sederhana saja, tinggal mendirikan palang besi. Lahannya mungkin bisa dengan mengambil sedikit jatah parkir mobil dosen & karyawan ITB :P Atau, kalau mau ekstrim, salah satu tempat parkir mahasiswa disulap menjadi seperti di atas. Tapi cara kedua ga mungkin, ding. Pertama, ga ada duit yang masuk. Kedua, pengguna sepeda belum sebanyak itu :D

Tapi saya pikir, hal ini patut dipertimbangkan. Toh di luar negeri kendaraan mayoritas di kampusnya juga sepeda, bukan motor seperti di sini (Ini saya agak sotoy. Dari pengamatan di film-film sih begitu). Apalagi dengan isu pemanasan global, isu kemacetan, isu susah parkir mobil, isu kenaikan harga BBM (yang rasanya 99.999% tidak akan turun lagi meski DPR mengajukan hak angket)….

NB :
gambar kedua diambil dari sini.

25 May 2008

Sakit

Tiga hari lalu (rabu sampai jumat) saya terkapar. Perut saya mendadak sakit. Tentu saja bukan sakit bulanan, karena saya laki-laki. Saya juga kurang tahu penyebabnya persisnya. Seingat saya, sakit mulai terasa setelah saya makan siang hari rabu. Tiba-tiba perut terasa penuh dan aneh. Giliran malam harinya, kepala saya jadi pusing.

Yang paling menyakitkan bukanlah saat saya harus tergeletak nyaris seharian di kamar hari kamis dan jumatnya; Tapi saat UAS hari rabu jam 7. Dimana pada malam harinya, saya nyaris tidak belajar sama sekali. Membaca slide materi kuliah membuat saya pusing. Akhirnya saya menyiapkan strategi ujian berdasarkan statistik : dalam dua semester terakhir, sang dosen selalu membuat UAS open book, dengan soal yang mirip dengan kuis dan PR. Maka saya pun memfotokopi solusi PR milik teman, menghapalkan urutan pengerjaannya, setelah itu tidur.

Ternyata, sang dosen mengingkari kebiasaannya. Ujian tutup buku. Mayoritas teori. Dari slide yang tidak sempat saya baca. Benar-benar bodoh. UAS paling bodoh sepanjang ‘karir’ empat tahun di *TB. Saya duduk 1 1/2 jam seperti orang tolol di dalam ruang ujian…

Semula, saya menduga kalau saya keracunan. Tapi feeling saya menyatakan tidak (pengalaman saat masih TPB). Menurut ibu kos saya juga demikian. Itu gejala masuk angin, kata beliau. Saya manggut-manggut saja. Tidak sampai merasa perlu cross-check dengan dokter, karena dokter hanya membuat pasien jadi miskin : Tuhan yang menyembuhkan, dokter yang pasang tarif. Bercanda. Masalahnya, tarif berobat di Indonesia mirip dengan prinsip transportasi umum : murah kok minta selamat. Kalau mau cepat sembuh ya cari dokter bagus, dengan resiko harga bagus pula. Duit sedikit? Hmm..  Oleh karena itu, saya lebih memilih ikhtiar dengan obat eceran, Pocari Sweat, dan menguatkan sugesti ’saya pasti sembuh’ di dalam hati.

Selama sakit, saya mulai menyadari ada yang salah dengan tubuh saya. Badan saya seperti memberikan teguran bahwa selama ini saya jarang menggerakkannya, sehingga mudah terserang sakit. Memang, kalau dipikir-pikir, gaya hidup saya benar-benar tidak sehat. Dalam 24 jam, nyaris waktu melek saya ada di depan komputer. Bergerak kalau hanya pergi ke kampus, kamar mandi, warung, dan sholat saja. Olahraga rutin hanyalah sepakbola di laptop, dengan cuma organ jempol tangan saya saja yang jadi fit. Olahraga lain, badminton (kalau ini beneran, bukan di laptop), cuma 2 jam dalam seminggu. Saya benar-benar kurang olahraga.

Ada juga hikmah lain yang saya dapatkan dari sakit tersebut. Saya sekarang jadi lebih memperhatikan pola makan saya. Maksudnya, makan tidak sampai taraf kenyang. Saya jadi teringat (kalau tidak salah) hadits yang menyebutkan bahwa jatah makanan itu cuma 1/3 perut, bukan seluruhnya. Ah, mungkin saya terlalu sering melanggarnya selama ini.

Semoga pengalaman sakit tersebut membawa kebaikan dalam diri saya.

21 May 2008

Baru

I have to wonder if this wave’s too big to ride

Commit or not commit is such a crazy time

It’s sooner than I thought but you called me out

I lost control and there’s no doubt

I’m gonna start all over

Miley Cyrus – start all over

Memulai lagi blog ini dari awal.