Nasi Padang dan Kuis Antena
6 September 2007 at 5:45 pm (hidup)
Seseorang tidak akan disebut beriman, sebelum Allah benar-benar memberinya cobaan.
Tapi ini bukan masalah keimanan. Atau setidaknya, engga terlalu menyangkut tentang itu, hihihi
Saya menyebutnya sebagai : respons dalam menghadapi cobaan nafsu makan -___-
Semua (anak subjur telkom ‘04 dan yang ngulang) pasti tahu, bahwa pagi ini, jam 10, diadakan tes I mata kuliah Antena dan Propagasi Gelombang. Apalagi, ini pengalaman tes pertama antena, mata kuliah yang sudah melegenda itu. Dari kemaren-kemaren juga sudah kepikiran untuk belajar, tapi ya cuma kepikiran doang
Pelaksanaannya baru mulai kemarin pagi-menjelang-siang. Fotokopi bahan sana-sini. Hohohoho.
Kemudian, “cobaan” itu datang. Saat hendak makan siang, saya ketemu dengan mantan anak sekos yang sekarang tinggal di asrama Salman. Diajak makan bareng lah saya (sayang ga ditraktir :p). Kami ke warung nasi padang di Gelap Nyawang. Dasar “gelap nyawang“, saya makan sambal hijau kebanyakan. Pedes sih engga, tapi sore harinya perut saya mulai terasa sakit. Seperti ditusuk-tusuk. Seperti sedang dicuci bersih. Dan sepanjang malam saya perut saya tercuci bersih. Diiringi demam dan kepala pusing. Untung tadi pagi sudah baikan. Tapi sudah terlalu telat untuk belajar lagi -___- Dan ya gitu deh hasil ujiannya….
Kemudian timbul penyesalan : mengapa kemarin makan sambal terlalu banyak. mengapa saya tidak belajar dari dulu-dulu (hoi hoi, kalo belajar dari kemaren-kemaren namamu bukan Arif, tapi Marko Kanadi, hohoho).
Pesan moral : nasi padang dapat menentukan nasib kelulusan antena Anda. Camkan itu
Kemudian jadi kepikiran. Ini kan sebuah faktor X yang tidak disangka-sangka namun dapat terjadi. Namun, sebenarnya hal-hal seperti ini dapat diantisipasi, kan. Apa bedanya dengan bencana tsunami yang menerjang Aceh dan menghancurkan berkas-berkas Aceh yang super-penting, atau ‘musibah’ mati listrik beberapa waktu silam yang melanda ITB beberapa waktu silam yang merusakkan beberapa mesin penting di unity-unity ITB ? Kalau seandainya dokumen Aceh tersebut dibuat versi digitalnya, dan dibackup di tempat lain, semisal ditaruh di Jakarta, tentu masalah kehilangan dokumen penting tersebut tidak akan terlalu parah (saya ngambil ceritanya pak BR :p). Kalau semisal semua ruang server di unity ITB ada UPS (yang benar-benar layak disebut UPS) dengan kapasitas sesuai kebutuhan, tentu efek mati lampu tidak terlalu berat [ini cerita basi, tapi saya bingung nyari contoh yang lain :p]
Harusnya, semua musti punya antisipasi. Tidak terkecuali saat makan nasi padang. Ah..
