AAC

Ah, long time no see. Akhirnya nulis kembali :p

AAC (Ayat-Ayat Cinta). Saya pikir pasti sudah banyak orang yang sudah membuat resensi filmnya. Dan toh, bajakannya juga sudah lama keluar di Rileks. Tak apalah, ini kan ulasan dari sudut pandang saya sendiri. Tapi jangan mencak-mencak ya setelah membaca postingan saya yang penuh kontroversi ini :D Oh ya, ini pendapat saya murni tentang filmnya. Tidak menyangkut paut tentang novelnya, karena saya belum baca sama sekali :p

Dimulai dengan penyesalan dan kekecewaan.

Yang membuat saya sangat menyesal adalah saya terlanjur membaca cerita di balik layar dari blognya Hanung. Saya terlanjur tahu bahwa unta di lorong dekat apartemen Fahri adalah unta dari kebun binatang Semarang. Saya juga terlanjur tahu bahwa ruangan sidang itu ternyata gereja di Jakarta. Akibatnya, saya tidak bisa dibohongi bahwa setting ceritanya adalah di Mesir. Sial.

Di film ini, sepertinya masih banyak detail yang terlewatkan, yang meskipun kecil, tapi saya pikir cukup penting.

Misalnya, adegan makan/minum sambil berdiri. Kalau sudah level mahasiswa Al Azhar ataupun ustadz, rasanya tidak mungkin itu dilakukan. Kecuali mungkin kalau mereka aliran Islam liberal :p Saya juga masih sulit percaya kalau tokoh-tokohnya itu mahasiswa Al Azhar. Mungkin karena saya di ITB sering lihat aktivis sih ya, jadi saya cenderung membandingkan dengan mereka :D

Lalu mengenai makanan dan minuman dalam adegan. Saya sulit menerima bahwa jauh-jauh di Mesir, tapi makannya mie instan ABC. Minumnya Nu Green Tea. Ah. Okelah, bisa jadi ada argumen bahwa itu merupakan kiriman dari Indonesia. Tapi, kalau saya mengirimi keluarga di luar negeri, saya akan mengirimi makanan khas yang bisa menghilangkan rasa kangen. Bumbu pecel kek, rendang kek, apalah. Kalaupun mie instan, saya akan mengirimi mie bungkusan macam Indomie, bukan yang kemasan cup. Nu Green Tea? hmm, saya pikir ini bukanlah minuman melegenda yang bisa memuaskan rasa kangen terhadap tanah air.

Terakhir, yang paling mengganggu saya adalah masalah adegan ibadah. Kok saya jadi teringat sinetron-sinetron Ramadhan bikinan Multivision Plus dkk yang whew itu ya. Rasanya tak perlu dideskripsikan lah, pasti anda merasakan yang sama dengan yang saya rasakan :p

Lepas dari hal-hal kecil mengganggu itu, bagi saya filmnya bagus. Ilustrasi musiknya pas. Jalan penceritaannya menarik. Percintaannya menggugah (alah :p) Deskripsi tokohnya juga sangat enak untuk dijadikan fantasi. Bayangin coba, ada empat perempuan yang ingin dinikahi Fahri. Kalau saya, empat-empatnya saya sikat tuh. Hehehe :D

(Lagi-lagi) Lepas dari segala kekurangannya, saya salut terhadap kerja keras mas Hanung Bramantyo dkk atas terwujudnya film ini. Dengan budget yang sangat terbatas, pasti sangat sulit untuk mewujudkan setting Mesir yang sempurna. Lalu, casting pemeran untuk film seperti ini pasti juga sangat sulit. Banyak aktor ganteng, tapi susah dipercaya kalau dia berperan sebagai orang alim. Banyak orang alim, tapi ga bisa akting. Ya sama aja. Belum lagi dari banyaknya hambatan di lapangan saat syuting.

Kemudian, pasti banyak yang menganggap novelnya jauh lebih bagus. Teman nonton saya (cowok T_T) juga berkata demikian. Yah, ini mah standar untuk film adaptasi novel. Rasanya semuanya juga begitu. Tapi, ya inilah mungkin adaptasi terbaik dalam bentuk film yang bisa dilakukan saat ini. Tak mungkin semua pesan yang terdapat di novel tersebut dapat diterjemahkan ke filmnya. Tetap kita harus berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengangkat novel Ayat-Ayat Cinta ke layar lebar. Bagi yang belum tahu Ayat-Ayat Cinta (seperti saya :p, sebenarnya sudah tahu lama sih, males baca aja), setelah menonton film ini mungkin jadi penasaran dan kemudian membaca novelnya. Dengan demikian, mereka akan mendapatkan pesan sebenarnya dari cerita ini.

Akhir kata : Jayalah perfilman Indonesia ! -_-

NB : gambar diambil dari http://leluconsinga.wordpress.com

9 Comments

  1. edo said,

    6 March 2008 at 1:06 pm

    musik sedihny plagiat pilm Schindler’s List (1993)

    di maenin 10 kali pulak

    benar2 ancur

  2. arif said,

    6 March 2008 at 11:36 pm

    @edo
    o ya? wah mas, ga tau saya kalo ternyata ada ilustrasi musiknya yang niru schindler’s list. kalo ternyata demikian, duh.. sayang banget. masak sih kita musti terus-terusan niru mentah bikinan orang :(

  3. reditya said,

    9 March 2008 at 1:34 pm

    analisis yang komprehensif..
    melihat sisi2 kecil yang tak terpikirkan orang lain..
    apik maw resensine :D

  4. Ari Kuncoro said,

    14 March 2008 at 12:52 pm

    yah… namanya film indonesia.
    banyak yang mengkritik itu justru bagus.
    supaya bisa maju. @Jaya juga, Maw!

  5. ridwan said,

    16 March 2008 at 5:57 pm

    dibandingin XL:Xtra Large sm Kawin Kontrak ya jelas bagusan ini lah. Tapi masih bagusan Hero the Movie. Tul gak? Hehehe….

  6. adipt said,

    3 April 2008 at 3:44 am

    aloo maw saudara namaku. lama tidak bersua. kapan nih kita bisa ketemu lagi? gw dari dulu punya niat buat nraktir lu, itung2 menebus dosa masa lalu (inget pak wastur? ya, pak wastur. yang taunya cuma nama ‘mohammad arief!’ tapi ngg nyadar klo yang punya nama itu di bawah asuhan dia ada 2 n si oknum sering bolos apel siang). kontak gw klo ada waktu maw. tak tunggu!

    p.s: blogku pindah ke http://adipt.net/, updet linkmu ya maw! blog ini udah tak link di blogku

  7. theshadows said,

    4 April 2008 at 8:45 pm

    @ridwan: masak sih? menurut saya filmnya tidak ada istimewanya.
    Pemerannya kurang menjiwai yang diperankan. Jadi tidak sreg di hati.
    Apalagi buad yang sudah bacak novelnya

  8. Nanta said,

    16 April 2008 at 9:40 pm

    Carissa nya cantik banget. cucuk sama saya ya

  9. rita said,

    22 April 2008 at 9:34 pm

    lebih bagus novelnya!!!
    aku aja nangis pas baca novelnya, soalnya banyak yg kesindir sih, jadi inget kalau begitu banyak dosa yg telah ku lakukan :D

Post a Comment